Case Study Simulation

Simulasi AR Collection Automation untuk perusahaan B2B dengan 300 invoice per bulan.

Simulasi ini menunjukkan bagaimana workflow collection dapat dibuat lebih konsisten tanpa menghilangkan approval manusia untuk tindakan legal.

Kondisi awal

Perusahaan memiliki sekitar 300 invoice per bulan dengan follow-up yang tersebar di spreadsheet, email, dan catatan manual. Reminder sering tidak konsisten, status SP sulit dipantau, dan manager tidak selalu mendapat gambaran aging secara cepat.

Solusi yang diterapkan

Workflow dibuat berdasarkan aging invoice. Sistem menyiapkan reminder H-3, payment request pada hari jatuh tempo, SP1 pada H+7, SP2 pada H+14, SP3 pada H+21, lalu somasi bertahap dengan approval manager/legal.

Output utama

  • Dashboard aging invoice dan outstanding customer.
  • Email reminder dan surat peringatan berbasis template.
  • Approval gate untuk SP3 dan somasi.
  • AI follow-up draft dan ringkasan respons customer.
  • Daily atau weekly collection report untuk manager.

Dampak operasional yang diharapkan

Follow-up menjadi lebih konsisten, status customer lebih mudah dilihat, risiko overdue dapat diprioritaskan, dan komunikasi collection lebih terdokumentasi. Simulasi ini tidak membuat klaim finansial final, karena hasil nyata bergantung pada kualitas data, kebijakan perusahaan, dan kedisiplinan implementasi.

Ingin mapping workflow AR Collection perusahaan?

Kirim brief demo agar kebutuhan invoice, SP, somasi, approval, AI follow-up, dan reporting bisa dipetakan.

Request Demo